Langsung ke konten utama

MEMAHAMI MAKNA RAHMATAN LIL ALAMIN SECARA KOMPREHENSIF ( MENYELURUH )

 

Kita sama-sama tahu bahwasannya Nabi Muhammad ﷺ itu adalah Rahmatan Lil Alamin, Rahmat Bagi Semesta Alam.


ALLAH ﷻ BERFIRMAN :


وَمَآ أَرْسَلْنَٰكَ إِلَّا رَحْمَةً لِّلْعَٰلَمِينَ


*_Dan tiadalah Kami mengutus kamu melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam._* 

📚(Al-Anbiya: 107) 


Sebagian pihak ada yang membawakan ayat ini untuk menyebarkan pemahaman bahwasannya Islam itu Agama Damai, dan tidak suka peperangan, ya inilah Agama Silmiyah/Damai ala mereka.


Sehingga mereka sangat alergi dengan istilah *Jihad fisabilillah* dan mengangkat senjata untuk bertempur/berperang melawan musuh.




Namun bagaimana Tafsir dari ayat ini jika kita hendak menelusurinya secara dalam ?


Imam Ibnu Katsir Asy-Syafi'i rahimahullah berkata dalam Tafsirnya Mengenai ayat ini ( Surah Al Anbiya Ayat 107 ) :


*Maka barang siapa yang menerima rahmat ini dan mensyukurinya, berbahagialah ia di dunia dan akhiratnya. Dan barang siapa yang menolak serta mengingkarinya, maka merugilah ia di dunia dan akhiratnya*



Imam Ibnu Katsir Asy-Syafi'i rahimahullah juga membawakan sebuah hadist.

Dari As-Silt ibnu Mas'ud, dari Sufyan ibnu Uyaynah, dari Mis'ar, dari Sa'id ibnu Khalid, dari seorang lelaki, dari Ibnu Umar yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda :

"إِنَّ اللَّهَ بَعَثَنِي رَحْمَةً مُهْدَاةً، بُعثْتُ بِرَفْعِ قَوْمٍ وَخَفْضِ آخَرِينَ"

*Sesungguhnya Allah mengutusku sebagai pembawa rahmat yang dihadiahkan, aku diutus untuk mengangkat (derajat) suatu kaum dan merendahkan yang lainnya.*




Ada Hadist lainnya secara lebih jelasnya yg menjelaskan hadist ini

Rasulullah ﷺ bersabda :


بُعِثْتُ بَيْنَ يَدَيِ السَّاعَةِ بِالسَّيْفِ حَتَّى يُعْبَدَ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ، وَجُعِلَ رِزْقِي تَحْتَ ظِلِّ رُمْحِي، وَجُعِلَ الذُّلُّ وَالصَّغَارُ عَلَى مَنْ خَالَفَ أَمْرِي، وَمَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ


*“Aku diutus menjelang hari kiamat dengan pedang[1], agar Allah satu-satu-Nya yang diibadahi, tidak ada sekutu bagi-Nya. Dijadikan rezekiku di bawah naungan tombakku[2], dan dijadikan kehinaan dan kerendahan itu bagi orang yang menyelisihi/menentang perintahku. Barang siapa menyerupai suatu kaum, dia termasuk kaum tersebut.”* 


📚(HR. Ahmad 2I/50 dan 92, dari Ibnu ‘Umar Radhiyallahu 'Anhuma. Hadits ini shahih, lihat Irwa’ al-Ghalil no. 1269)


Abul Qasim At-Tabrani juga telah meriwayatkannya dari Abdan ibnu Ahmad, dari Isa ibnu Yunus Ar-Ramli, dari Ayyub ibnu Suwaid, dari Al-Mas'udi, dari Habib ibnu Abu Sabit, dari Sa'id ibnu Jubair, dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna firman-Nya: 

وَمَآ أَرْسَلْنَٰكَ إِلَّا رَحْمَةً لِّلْعَٰلَمِينَ

*_Dan tiadalah Kami mengutus kamu melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam._*

📚(Al-Anbiya: 107) 


Ibnu Abbas Radhiyallahu 'Anhuma *_mengatakan bahwa orang-orang yang mengikutinya beroleh rahmat di dunia ini dan di akhirat kelak._*


*_Sedangkan orang-orang yang tidak mengikutinya tidak dapat terhindar dari cobaan berupa ditenggelamkan ke bumi, dikutuk, dan ditimpa azab yang pernah dialami oleh umat-umat lain sebelum mereka._*



Maka kesimpulannya adalah, Rasûlullâh ﷺ adalah Rahmat Bagi Semesta Alam bagi siapa saja yang mengikutinya, menta'atinya, dan mematuhi setiap perintahnya dan menjauhi setiap larangannya, dan siapa yang menentangnya akan menerima adzab, kutukan, dan juga PEDANG/PEPERANGAN.


INILAH Makna RAHMATAN LIL ALAMIN 


_______

👣Catatan Kaki :


[1] Maksudnya, Allah subhanahu wa ta’ala mengutus Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wassalam sebagai dai yang mengajak manusia—untuk menauhidkan-Nya—dengan pedang, setelah adanya proses dakwah dengan hujah (dalil-dalil dan argumentasi). Barang siapa tidak mau menerima dakwah (ajakan) kepada tauhid dengan al-Qur’an, hujah, dan bayan, dia diajak dengan pedang.


[2] Hal ini menunjukkan bahwa beliau diutus oleh Allah subhanahu wa ta’ala bukan untuk berupaya mencari dunia, mengumpulkan harta dan menimbunnya, ataupun bersungguh-sungguh mengupayakan sebab-sebab meraih dunia. Namun, beliau diutus tidak lain sebagai dai (penyeru) yang mengajak—untuk menauhidkan-Nya—dengan pedang. Sebagai konsekuensinya, beliau harus memerangi orang-orang yang tidak mau menerima dakwah tauhid, menghalalkan harta mereka, dan menawan wanita-wanita mereka, sehingga rezeki beliau berasal dari rampasan perang (fai’) dari harta para musuh.


Sesungguhnya, harta itu diciptakan oleh Allah untuk anak Adam tidak lain agar mereka menjadikannya sebagai sarana untuk taat dan beribadah kepada-Nya. Maka dari itu, barang siapa yang justru menjadikan harta tersebut sebagai sarana untuk kufur dan berbuat syirik kepada Allah, Allah akan menguasakan harta tersebut kepada Rasul-Nya dan para pengikut Rasul, agar direbut darinya dan diberikan kepada pihak yang lebih berhak terhadap harta tersebut, yaitu para ahli ibadah, ahli tauhid, dan ahli ketaatan. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, “Maka makanlah dari sebagian rampasan perang yang telah kamu ambil itu, sebagai makanan yang halal lagi baik, dan bertakwalah kepada Allah; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (al-Anfal: 69)


🌐Dinukil dari : 

https://qonitah.com/ancaman-keras-bagi-orang-yang-menyelisihi-atau-menentang-as-sunnah/

~~~~~~~


✍️ Ibnu Deromat Al Falimbani


Allahu A'lam

Komentar

Postingan populer dari blog ini

(﷽) NASEHAT UNTUK PARA HAFIZH QUR'AN

Hendaknya untuk para Hafizh Qur'an atau Qurro' : 1. Meluruskan Niatnya, yakni Ikhlas Menggapai Ridha ALLAH ﷻ semata. Dari Ummul Mukminin Aisyah Radhiyallahu 'Anha ia berkata : فَإِنِّى سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَقُولُ « مَنِ الْتَمَسَ رِضَاءَ اللَّهِ بِسَخَطِ النَّاسِ كَفَاهُ اللَّهُ مُؤْنَةَ النَّاسِ وَمَنِ الْتَمَسَ رِضَاءَ النَّاسِ بِسَخَطِ اللَّهِ وَكَلَهُ اللَّهُ إِلَى النَّاسِ *_Aku pernah mendengar Rasûlullâh ﷺ bersabda, “Barangsiapa yang mencari ridho Allah saat manusia tidak suka, maka Allah akan cukupkan dia dari beban manusia. Barangsiapa yang mencari ridho manusia namun Allah itu murka, maka Allah akan biarkan dia bergantung pada manusia.”_* 📚 (HR. Tirmidzi no. 2414 dan Ibnu Hibban no. 276. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih) Dalam lafazh Imam Ibnu Hibban rahimahullah disebutkan, مَنْ اِلْتَمَسَ رِضَا اللَّهِ بِسَخَطِ النَّاسِ رضي الله عنه وَأَرْضَى عَنْهُ النَّاسَ ، وَمَنْ اِلْتَمَسَ رِضَا النَّاسِ بِسَخَطِ اللَّهِ سَخِطَ...

PANJANG ANGAN-ANGAN, MERASA AMAN DARI DOSA-DOSA, DAN MENUNDA-NUNDA TAUBAT ADALAH KETERTIPUAN SEORANG HAMBA

Ketahuilah saudaraku, hal-hal yang membuat seseorang tertipu dengan dirinya sendiri  yakni mereka yang panjang angan-angan dan menunda-nunda taubatnya kepada Allah ﷻ, serta terus menerus merasa aman dari dosa-dosa yang dia lakukan. Al-Imam Ibnul Jauzy رحمه الله berkata,                          ومنهم من يقول: "الرب كريم والعفو واسع" فيسمون تمنيهم واغترارهم رجاء، وهذا الذي أهلك عامة المذنبين   *_Sebagian orang ada yang mengatakan, 'Allah Maha Pemurah dan ampunan luas.' Jadi mereka menamakan angan-angan dan ketertipuan mereka sebagai harapan, dan inilah yang telah membinasakan keumuman orang-orang yang suka berbuat dosa._* 📖[Talbis Iblis: 887] Ya, sikap terlalu meremehkan dosa2, baik dosa2 kecil bahkan dosa2 besar itu karena kita selalu menganggap angan-angan dan ketertipuan sebagai harapan, yakni terlalu besar rasa Harap/Raja' kita kepada Allah, meyakini Allah Maha Pengampun, Pemurah, Penyayang. Dan ungkapan yg ...